Rabu, 26 Januari 2011

COBAAN DAN UJIAN MANUSIA

                                Sendiri kutelan airmata lara
                                Lelahku ayun jiwa dibumi ini
                                Merontah ku karena teriris luka
                                Rintihku mengalun tanpa suara
   
                                Sebenarnya rinduku tak tertahankan
                                Meraja Wajah-Mu hinggap diluas rasa
                                Terkata kata-kataku  kukatakan
                                Pada Sang Pencipta kata-kata

                                Allah…Tuhan hamba tolonglah hamba
                                Derita tertahan apapun jua
                                Bila sudi kau sentuh hati
                               Tegar ku cari jalan syurgawi

                               Allah…Tuhan hamba tolonglah hamba
                               Haus rinduku ingin bertemu
                               Dimana lelah berubah indah
                               Saat peluhku kau jamah

Perjalanan kehidupan manusia didunia ini bagaikan roda berputar, kadang berada diatas dan kadang berada dibawah. Hal itu merupakan sunnahtullah yang harus dijalankan oleh umat manusia baik mengalami kehidupan yang bahagia maupun mengalami kehidupan yang sengsara didunia ini. Kehidupan bahagia dan sengsara itulah setiap manusia pasti mengalami dan merasakannya silih berganti menapaki hari demi hari usianya yang sudah dijatah oleh Sang Pemilik diri manusia yaitu Allah Azza Wajallah.
Dalam mengarungi kehidupan yang bahagia ataupun sengsara itu manusia pada hakekatnya diuji oleh Allah SWT(khususnya untuk orang-orang yang beriman) sebagaimana firman Allah SWT didalam QS. Al-Anbiyah(21):35; ”Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan(yang sebenar-benarnya)dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.  Begitulah Allah akan menguji diri kita dengan kesengsaraan dan kesusahan hidup seperti kehidupan yang miskin, musibah ataupun bencana yang datang kepada kita dan lain sebagainya yang membuat penderitaan juga kesedihan hati manusia. Disamping menguji diri kita dengan kesenangan dan kebahagiaan hidup seperti kehidupan yang kaya raya, mempunyai kedudukan serta jabatan yang tinggi dimasyarakat dan lain sebagainya yang membuat hidup begitu mudahnya didunia ini. Akankah diri kita bertahan dalam ujian Allah SWT tersebut, baik dalam kondisi kehidupan kita yang bahagia maupun dalam kondisi kehidupan kita yang sengsara….???.
Sebagai pribadi seorang muslim tentunya diri kita mempunyai jiwa kepasrahan yang tinggi kepada apa-apa yang telah diberikan oleh Allah SWT dikehidupan kita yaitu kondisi hidup kaya raya atau kondisi hidup sengsara/miskin didunia ini. Karena Allah SWT sudah mentakdirkan rizki diri kita masing-masing itu banyak ataupun sedikit. Seperti firman Allah SWT didalam QS. Al-Ankabut 29:62; “Allah melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan Dia(pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Dalam kondisi hidup kita yang kaya raya, seyogjanyalah kita wajib bersyukur bahwa Allah SWT melimpahkan rizki-Nya pada kehidupan kita didunia ini. Kehidupan yang kaya raya itu tidak melenakan dan melupakan diri kita dari kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan kepada Sang Pencipta alam semesta. Malah sebaliknya, dengan kekayaan yang diperolehnya itu membuat diri kita semakin bertambah dekat kepada-Nya dengan menginfaqkan sebagian dari harta kita untuk kepentingan dan kelancaran da’wah Islamiyah demi tegaknya Dienullah dimuka bumi ini. Dalam firman Allah SWT dalam QS. Ibrahim 14:7; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah(ni’mat) kepadamu dan jika kamu mengingkari(ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.  Itulah firman Allah yang selalu kita ingat dan kita terapkan didalam kehidupan kita. Sehingga kehidupan kita yang kaya raya itu tak membuat diri kita melupakan Allah SWT yang telah mengkaruniakan kekayaan itu kepada kita.
Dalam kondisi kehidupan kita yang sengsara/miskin, hendaklah diri kita menghadapinya dengan tabah dan sabar. Setiap musibah atau bencana yang datang menghadang hidup kita, kita kembalikan kepada Allah SWT seraya mengucapkan; “Sesungguhnya diri kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah diri kami akan kembali”.   Sehingga dalam menghadapi kesengsaraan hidup, musibah dan bencana tersebut diri kita tidak berkeluh kesah mensikapinya. Janganlah dengan kemiskinan hidup, diri kita akan menjadi jauh atau semakin jauh hubungan dengan Allah. Seperti yang diucapkan Rasulullah SAW didalam haditsnya; “Kemiskinan itu membawa diri kamu kepada kekufuran”. Na’udzubillah min dzalik !, semogalah diri kita tidak mengalami seperti itu.
Sebagai orang yang beriman tentunya kita semua harus berusaha supaya kita dapat lulus dengan baik dari segala macam cobaan dan ujian yang sudah dijelaskan diatas, yang mungkin ditimpakan oleh Allah SWT kepada kita. Yaitu jadikanlah iman kita kokoh dan kuat bagaikan batu karang ditengah lautan, yang tahan uji oleh pukulan-pukulan gelombang sepanjang masa. Atau, jadikanlah iman kita laksana emas murni(24 karat) yang makin ditempa semakin cemerlang. Dengan ujian dan cobaan yang ditimpakan Allah kepada diri kita, maka akan menjadi jelas kelihatan mutu keimanan kita, apakah emas atau loyang !. Seperti didalam hadits Rasulullah SAW menjelaskan; “Sesungguhnya Allah pasti akan mencoba salah seorang diantara kamu dengan suatu bencana, seperti halnya salah seorang diantara kamu mencoba emasnya dengan api. Diantara mereka ada orang yang keluar(dari cobaan) seperti emas murni dan diantaranya ada pula orang yang keluar seperti emas hitam”(HR. Tabrani).
Usahakan diri kita tetap selalu ingat kepada Allah SWT dimana saja kita berada baik diwaktu suka maupun duka. Seperti firman Allah SWT didalam QS.                                   ; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu menyebabkan kamu lalai dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka merekalah orang-orang yang menderita kerugian”.
Janganlah diri kita bermental seperti halnya Qarun dimasa nabi Musa AS, yang berbalik dari beriman menjadi kufur(murtad) ketika dia dicoba dan diuji oleh Allah SWT dengan harta benda yang berlimpah ruah. Juga janganlah diri kita menjadi seperti Fir’aun, yang ketika dipuncak kejayaannya dia bukan bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, tetapi justru dia malah mengaku menjadi Tuhan, mengaku sebagai Tuhan yang tinggi dengan mengatakan;”Akulah Tuhan kalian yang maha tinggi”. Tetapi cobalah diri kita seperti nabi Ayyub AS yang dicoba dan diuji oleh Allah dengan sekujur tubuhnya ditimpah suatu penyakit yang hebat bahkan semua hartanya musnah dan semua putranya meninggal dunia, tetapi beliau tetap tabah dan sabar, dia berkata;”Sesungguhnya malapetaka telah menimpahku dan Engkaulah ya Allah Yang Paling Penyayang diantara segala yang penyayang”(QS. Shad             ). Juga contohlah pribadi Rasulullah SAW tetap tidak mau mundur setapakpun dari tugas suci menyiarkan agama Islam, walaupun beliau diintimidasi, dibujuk rayu, disiksa, disuap, disogok dan lain-lain oleh musuh-musuhnya, Rasulullah SAW berkata kepada musuh-musuhnya;”Demi Allah, andai kata mereka meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku, supaya aku meninggalkan perjuangan ini, tidaklah aku mau meninggalkannya, sehingga Allah memenangkan perjuanganku atau aku hancur(mati) karenanya”.
Dalam menempuh cobaan dan ujian Allah, ada dua kemungkinan; diri kita dapat lulus dari cobaan dan ujian tersebut dan mungkin pula tidak. Sekiranya tidak atau belum lulus, ada baiknya kita contoh nabi Adam AS yaitu segeralah bertaubat kepada Allah jika sudah berbuat dosa. Seperti nabi Adam AS juga berdosa karena terlanjur memakan buah(larangan) khuldi disyurga, beliau merasa menyesal dan bertaubat kepada Allah sampai taubatnya diterima oleh Allah. Nabi Adam AS berdo’a;”Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, sekiranya Engkau tidak mengampuni dan tidak mengasihi kami, tentulah kami termasuk orang-orang yang merugi(QS. Al-A’raf:23)”.
Diri kita mengarungi kehidupan didunia ini yang penuh cobaan dan  ujian dari Allah SWT hendaklah berfilsafat seperti apa kata pepatah;”Sebuah layang-layang tidak akan naik keatas kelangit yang tinggi, jika tidak ada hantaman angin yang keras, yang menghadang layang-layang tersebut”. Begitulah diri kita, ibaratnya sebuah layang-layang yang akan menghadapi hantaman angin yang menghadangnya. Jika diri kita ingin naik keatas seperti layang-layang tersebut naik keatas kelangit tinggi, maka siap-siaplah diri kita dihantam hembusan angin yang besar/keras. Tetapi kalau diri kita ingin sebaliknya, maka jangan harap diri kita menerima hantaman angin yang besar/keras. Karena semakin tinggi diri kita naik keatas maka semakin besar pula cobaan dan ujian yang datang menghadang. Jadi, sudah seberapa besar hantaman angin yang sedang kita hadapi sekarang ini, untuk melambungkan diri kita naik menjulang tinggi keatas, kelangit yang tinggi….???.
Akhirnya, marilah kita renungi firman Allah SWT didalam QS. AL-Baqarah(2):214;”Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, sedangkan kepada kamu belum datang seperti apa yang diderita oleh orang-orang sebelum kamu, yaitu ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan kegoncangan. Sehingga Rasul berkata dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Kapan datangnya pertolongan Allah ?”. Ingatlah bahwa pertolongan Allah itu sudah dekat”.

               Hasbi robbi jalallah……Mahfi qalbi ilallah
               ‘Alal hadi shallallah… Laa ilaha illallah

              Tak mampu ku memuji-Mu..tak mampu ku meraih-Mu
              Tak mampu kehadirat-Mu… tanpa pertolongan-Mu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar